Gambar Karikatur AI
TAKALAR, INDIWARTA.COM – Abrasi pantai yang kian meluas terus menggerus wilayah Pulau Satangnga, Desa Mattiro Baji, Kecamatan Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar. Warga bersama pemerintah desa mendesak pemerintah kabupaten hingga provinsi segera turun tangan sebelum dampaknya semakin parah.
Kepala Desa Mattiro Baji, Muh. Ridwan, mengatakan pihaknya telah berupaya melakukan penanganan darurat dengan membangun tanggul penahan abrasi. Namun kemampuan anggaran desa sangat terbatas.
“Kami sudah mengalokasikan dana untuk pembuatan tanggul, tetapi hanya mampu menutup sebagian kecil area yang terdampak,” ujar Ridwan, Rabu, 4 Maret 2026.
Menurut dia, kondisi abrasi di Pulau Satangnga bukan persoalan baru. Setiap tahun, garis pantai terus mundur dan mengancam permukiman warga. Beberapa titik bahkan disebutnya sudah mendekati rumah penduduk.
Ridwan mengaku pihak desa berulang kali menyampaikan laporan dan permohonan bantuan ke Pemerintah Kabupaten Takalar. Proposal juga pernah dikirimkan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Namun hingga kini belum ada tindak lanjut yang konkret.
“Setiap Musrenbang kecamatan selalu kami usulkan. Kami juga sudah kirim proposal ke BNPB, tetapi belum ada tanggapan yang jelas,” katanya.
Warga berharap pemerintah daerah maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan segera melakukan kajian teknis dan intervensi anggaran untuk pembangunan tanggul permanen atau langkah mitigasi lainnya. Tanpa penanganan serius, abrasi dikhawatirkan akan semakin mengikis daratan dan mengancam keselamatan serta mata pencaharian masyarakat pesisir.
Bagi warga Pulau Satangnga, persoalan ini bukan sekadar isu lingkungan, melainkan soal keberlangsungan hidup di wilayah kepulauan yang kian rentan terhadap perubahan alam. (*)












