MALUKU NAMLEA, INDIWARTA.COM – Sejumlah aktivis sosial di Kabupaten Buru bersama pemerhati ekonomi kerakyatan mendorong penerapan skema ibu angkat untuk memperkuat koperasi yang beroperasi di kawasan tambang emas Gunung Botak. Gagasan ini dinilai strategis untuk memperbaiki tata kelola koperasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan penambang rakyat secara berkelanjutan.
Dorongan tersebut mengemuka menyusul masih lemahnya akses koperasi terhadap permodalan, pendampingan manajemen, serta perlindungan hukum dalam aktivitas pertambangan rakyat. Kondisi ini membuat koperasi sulit berkembang dan rentan terhadap berbagai persoalan, mulai dari konflik hingga praktik pertambangan ilegal.
Aktivis sosial Dulman Makatita menilai, kehadiran ibu angkat baik dari unsur pemerintah, BUMN, maupun pihak swasta dapat menjadi solusi konkret untuk memperkuat kapasitas koperasi. Menurutnya, peran ibu angkat bukan untuk mengambil alih, melainkan mendampingi dan membina koperasi agar lebih profesional.
“Ibu angkat berperan sebagai pendamping dan pembina, bukan penguasa. Koperasi tetap dikelola masyarakat, tetapi mendapat dukungan manajemen, teknologi, dan pemasaran yang lebih baik,” kata Dulman.
Selain aspek ekonomi, pendampingan tersebut juga diharapkan mampu mendorong praktik pertambangan yang lebih aman dan ramah lingkungan. Selama ini, aktivitas tambang rakyat di Gunung Botak kerap diwarnai persoalan keselamatan kerja dan pencemaran lingkungan akibat minimnya pengetahuan serta keterbatasan peralatan.
Para aktivis menilai, koperasi yang kuat dengan dukungan ibu angkat dapat menjadi wadah resmi bagi para penambang untuk bekerja secara legal dan terorganisir. Dengan demikian, potensi konflik sosial, praktik ilegal, serta eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan dapat ditekan.
Sementara itu, perwakilan masyarakat penambang menyambut positif gagasan tersebut. Mereka berharap pendampingan tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan segera diwujudkan dalam langkah nyata.
“Kami butuh bimbingan dan modal, tapi tetap ingin bekerja dengan cara kami sendiri melalui koperasi,” ujar seorang penambang.
Para aktivis juga meminta pemerintah daerah berperan aktif memfasilitasi skema ibu angkat melalui regulasi yang jelas dan pengawasan berkelanjutan. Dengan sinergi antara koperasi, ibu angkat, dan pemerintah, pengelolaan tambang emas Gunung Botak diharapkan menjadi lebih tertib, aman, dan memberi manfaat maksimal bagi masyarakat lokal. (Red/Sofyan)












