Debat Perdana Pilgub Sulsel 2024, Adu Gagasan hingga Pertarungan Visi dan Misi

MAKASSAR, INDIWARTA.COM – Debat perdana, pasangan calon (paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, akan digelar pada Senin (28/10/2024) di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, pukul 20.00 WITA.

Perhelatan debat ini diharapkan menjadi ajang pertarungan visi dan misi, antara dua pasangan calon (paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, Mohammad Ramdhan Pomanto – Azhar Arsyad (DiA) dan Andi Sudirman Sulaiman – Fatmawati Rusdi Masse (Andalan Hati), yang siap adu gagasan untuk merebut hati warga Sulsel.

Komisioner KPU Sulsel, Hasruddin Husan, mengonfirmasi bahwa tema debat kali ini adalah “Peningkatan Kesejahteraan dan Pelayanan Publik yang Aksesibel dan Responsif”.

Tema ini dipilih, untuk menggambarkan prioritas utama kedua paslon dalam meningkatkan kesejahteraan dan memastikan pelayanan publik, yang lebih mudah diakses dan tanggap terhadap kebutuhan warga.

Menurut Hasruddin, acara debat ini terbuka untuk berbagai kalangan. Setiap tim paslon diundang, untuk membawa 100 orang pendukung.

“Kami ingin melibatkan banyak elemen masyarakat, untuk menciptakan suasana yang inklusif,” katanya.

“Jam 20.00 sudah dimulai segmen pertama, proses pembukaan dan penyampaian visi misi pasangan calon. Akan dimulai dari paslon 01,” ucap Hasruddin, kepada detikSulsel, Minggu (27/10/2024) malam.

Pada segmen 2, paslon nomor urut 2 akan mendapat kesempatan pertama mengambil bola undian, yang berisi pertanyaan dari panelis. Pertanyaan yang akan dibacakan moderator akan langsung dijawab paslon 2 dan ditanggapi paslon 1.

“Segmen kedua itu akan dimulai dari paslon 2. Segmen ini pendalaman visi misi, menjawab pertanyaan disiapkan panelis yang akan dibacakan moderator. Jawaban paslon 2 akan direspons paslon 1 dan kemudian direspons kembali paslon 2, terus menerus dilakukan secara bergantian,” ujarnya.

Pada segmen 3, giliran paslon nomor urut 1 akan mendapat kesempatan pertama untuk mengambil bola dan menjawab pertanyaan. Selanjutnya, akan direspons oleh paslon 2 dan kembali direspons oleh paslon 1.

“Di segmen tiga dimulai dari nomor urut 1 lagi, sama dengan polanya tadi. Paslon 1 menjawab pertanyaan panelis yang dibacakan moderator kemudian paslon 2 merespons kemudian paslon 1 menanggapi lagi,” jelas Hasruddin.

“Dari segmen 2 dan 3 ini, ada 3 pertanyaan dari 6 subtema yang dicabut oleh panelis dan kemudian dibacakan moderator,” ujarnya.

Sesi tanya jawab akan berlangsung pada segmen 4 dan 5. Segmen ini durasinya selama 16 menit. Durasi bertanya 1 menit, durasi paslon menjawab 2 menit. Kemudian direspons 1 menit, dan direspons kembali oleh paslon lain 1 menit.

“Kita siapkan waktunya sedikit lama, metodenya salah satu paslon menanyakan pertanyaan yang sesuai dengan tema yang kemudian dijawab oleh paslon lain, kemudian direspons penanya, kemudian direspons lagi oleh paslon berikutnya. Itu tiga kali bergulir,” bebernya.

Sedangkan pada segmen 6, masing-masing paslon akan menyampaikan pernyataan pamungkas. Paslon diberi kesempatan memberikan closing statement, dengan durasi 2 menit.

“Kemudian sampai dengan segmen 6, itu masuk closing statement, apa muatan yang disampaikan tadi mulai dari visi misi, kemudian menjawab pertanyaan panelis dan dalam metode tanya jawab,” katanya.

Diungkapkannya, tidak hanya pendukung paslon, sejumlah perwakilan dari Forkompinda, organisasi pemuda, tokoh masyarakat, serta penyelenggara juga diundang, sebagai langkah untuk memberikan nuansa debat yang lebih dinamis dan representatif.

KPU Sulsel pun telah menunjuk tujuh panelis ahli, yang akan memberikan masukan dan mengarahkan diskusi dalam debat.

Para panelis ini, berasal dari berbagai latar belakang, termasuk pemerhati kebijakan publik, dosen, serta aktivis di bidang perempuan dan anak. Mereka diharapkan dapat membantu menggali lebih dalam gagasan-gagasan paslon dan memberi perspektif yang kaya bagi publik.

Panelis yang akan terlibat tersebut, diantaranya Andi Yudha Yunus, pemerhati kebijakan publik dan aktivis LSM; Adi Suryadi Culla, dosen Ilmu Politik dan Hubungan Internasional Unhas; serta Mohammad Arif, Sekretaris Pusat Kajian Advokasi dan Bantuan Hukum Universitas Muslim Indonesia. Selain itu, hadir juga Muh Iqbal Latief, Kepala Pusat Penelitian Opini Publik LPPM Unhas.

Keterlibatan panelis perempuan seperti aktivis Husaimah Husain, menambahkan perspektif berbeda dalam debat ini, terutama untuk isu-isu yang berdampak langsung pada perempuan dan anak.

Prof Firdaus Muhammad, Guru Besar Ilmu Komunikasi dan Politik Islam dari UIN Alauddin Makassar, dan Prof Muhlis Madani dari Universitas Muhammadiyah Makassar, turut hadir.

Pada debat ini, menjadi kesempatan bagi masyarakat Sulsel, untuk mendalami visi kedua paslon dalam menciptakan Sulsel yang lebih sejahtera. Dengan demikian, debat tidak hanya sekadar formalitas, melainkan ajang adu gagasan yang bisa menjadi acuan bagi masyarakat dalam menentukan pilihan.

Diharapkan melalui debat ini, masing-masing paslon dapat menyampaikan solusi konkret untuk berbagai isu utama yang dihadapi masyarakat Sulsel, seperti pelayanan kesehatan, infrastruktur, serta pemberdayaan ekonomi. Selain itu, gagasan mengenai ketahanan sosial, lingkungan, dan pendidikan juga diharapkan muncul dalam diskusi. (*/)