Empat Kelas SDN 13 Bontolebang I Nyaris Roboh, Guru Khawatir Plafon Ambruk Timpa Murid

TAKALAR, INDIWARTA.COM – Empat ruang belajar di SDN No. 13 Bontolebang I, Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, dalam kondisi rusak berat. Dinding retak, plesteran mengelupas, atap bocor, hingga plafon yang nyaris runtuh menjadi pemandangan sehari-hari di sekolah dasar negeri tersebut, Senin (23/02/2026).

Bangunan yang berdiri puluhan tahun lalu itu kini tampak kumuh dan gersang. Dari luar, temboknya terlihat menganga lapisan plesteran berjatuhan, menyisakan susunan batu bata. Di bagian dalam, beberapa plafon sudah lapuk dan ambruk. Kondisi ini membuat ruang kelas tak lagi layak digunakan untuk proses belajar-mengajar.

Kepala sekolah, H. Syarifuddin, S.Pd, saat ditemui di ruang kerjanya, mengaku prihatin dengan keadaan tersebut. Ia menyebut kerusakan paling mengkhawatirkan terdapat pada bagian plafon yang sudah lapuk dan berpotensi runtuh sewaktu-waktu.

“Yang paling kami khawatirkan, bagian plafon bisa jatuh dan mencelakai siswa maupun guru. Ini sudah sangat mendesak untuk direhabilitasi,” ujarnya.

Menurut dia, bangunan itu merupakan gedung lama yang dibangun sejak awal berdirinya sekolah dan belum pernah mendapat rehabilitasi berat. Seiring waktu, kondisi fisik gedung terus menurun tanpa perbaikan menyeluruh.

Pihak sekolah, kata Syarifuddin, telah mengajukan proposal rehabilitasi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Namun hingga kini, bantuan yang diharapkan belum terealisasi.

Ia berharap pemerintah pusat melalui dinas terkait dapat segera memberikan perhatian dan bantuan rehabilitasi berat. “Kami ingin siswa belajar dengan aman dan nyaman. Jangan sampai harus menunggu kejadian yang tidak diinginkan baru ada penanganan,” katanya.

Kerusakan infrastruktur pendidikan di wilayah pedesaan seperti ini kembali menegaskan persoalan klasik: ketimpangan fasilitas antara sekolah di perkotaan dan pelosok. Di tengah tuntutan peningkatan mutu pendidikan, kondisi bangunan yang nyaris roboh justru menjadi ancaman nyata bagi keselamatan peserta didik.

(Red/Bakri Nompo)