TAKALAR, INDIWARTA.COM – Isu dugaan penggunaan ijazah milik saudara kembar yang telah meninggal dunia oleh Kepala Desa Bontosunggu, Hadijah, yang disebut-sebut digunakan saat Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) 2022, belum sepenuhnya mereda. Kini, muncul isu baru yang kembali mengusik kepercayaan publik terhadap tata kelola pemerintahan desa di wilayah tersebut.
Isu terbaru mencuat setelah Bupati Takalar, Ir. H. Mohammad Firdaus Daeng Manye, menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepada 393 Kepala Dusun dari 86 desa se-Kabupaten Takalar. Penyerahan dilakukan secara simbolis kepada 11 perwakilan kepala dusun dari 11 kecamatan dalam rangkaian Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pemerintah Kabupaten Takalar di Alun-Alun Baruga Panrannuangku, Kamis (12/02/2026).
Di tengah kegiatan tersebut, beredar kabar dugaan bahwa beberapa kepala dusun dari Desa Bontosunggu, Kecamatan Galesong Utara, yang hadir dalam penyerahan SK diduga bukan nama yang tercantum dalam SK resmi.
Seorang warga Desa Bontosunggu menghubungi tim media Indiwarta.com untuk mempertanyakan kehadiran para kepala dusun dari desanya dalam kegiatan tersebut. Ia meminta agar dilakukan pengecekan langsung di lokasi guna memastikan bahwa nama yang tercantum dalam SK benar-benar sesuai dengan orang yang hadir.
“Coba dicek di lokasi, Daeng. Kepala dusun dari Desa Bontosunggu yang hadir itu siapa. Kalau bisa difoto atau divideo supaya bisa dipastikan,” ungkap sumber tersebut dalam percakapan via WhatsApp.
Tim media menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dihadiri ratusan peserta, sehingga sulit melakukan pengecekan satu per satu, terlebih acara telah selesai saat informasi itu disampaikan.
Sumber tersebut kemudian mengungkapkan adanya isu lama di tengah masyarakat Desa Bontosunggu, bahwa dua kepala dusun yang bertugas saat ini diduga bukan nama yang tertera dalam SK, melainkan orang tua dari nama yang tercantum dalam dokumen resmi tersebut.
“Isunya, orang tuanya yang menjalankan tugas sebagai kepala dusun, padahal dalam SK itu nama anaknya. Ada dua dusun: Dusun Bontosunggu dan Dusun Kalongkong. Tapi ini masih sebatas isu. Karena itu saya minta foto atau video kegiatan supaya bisa dikenali siapa yang hadir dari Desa Bontosunggu,” katanya, seraya meminta identitasnya tidak disebutkan.
Hingga berita ini ditayangkan, tim Indiwarta.com belum memperoleh klarifikasi resmi dari Pemerintah Desa Bontosunggu maupun pihak terkait untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. (*)










