Ketika Iran Mengguncang Dunia: Mengingat Kembali Warisan Persia

Oleh: Abu Hudzaifah

TAKALAR, INDIWARTA.COM – Ketika dunia internasional menyoroti eskalasi konflik terbaru di Timur Tengah, perhatian publik kembali tertuju pada Iran. Dalam narasi yang beredar, negeri itu disebut mampu melancarkan serangan militer jarak jauh yang menyasar berbagai kepentingan Amerika Serikat di kawasan dalam waktu relatif singkat. Roket dan drone dilaporkan menempuh ribuan kilometer, bahkan melintasi kawasan Laut Mediterania.

Bagi sebagian pengamat militer, operasi semacam itu hampir mustahil dilakukan tanpa kesiapan teknologi dan strategi yang matang. Namun bagi Iran, peristiwa tersebut bukan sekadar operasi militer, melainkan simbol dari sebuah sikap politik: perlawanan dan kehormatan nasional.

Peristiwa ini seolah membuka kembali memori lama dunia tentang Persia peradaban besar yang pernah menguasai wilayah luas di Asia Barat dan menjadi salah satu kekuatan militer paling berpengaruh dalam sejarah.

Dalam catatan sejarah klasik, Persia dikenal memiliki pasukan elit yang disebut Immortals atau “Pasukan Abadi”, yang berjumlah sekitar 10.000 prajurit. Mereka terkenal dengan taktik tempur yang menggabungkan kemampuan pemanah jarak jauh dan infanteri berat, sebuah kombinasi yang pada masanya dianggap sangat efektif.

Hari ini, Persia modern yang dikenal sebagai Iran berusaha menunjukkan bahwa warisan sejarah itu belum sepenuhnya hilang. Di tengah tekanan geopolitik, sanksi ekonomi, dan konflik regional yang berkepanjangan, Iran mencoba mempertahankan posisinya sebagai negara yang tidak mudah tunduk pada dominasi kekuatan global.

Amerika Serikat, yang selama ini dikenal sebagai negara adidaya dengan kekuatan militer, ekonomi, dan teknologi terbesar di dunia, menjadi simbol dari sistem global yang sering dipandang Iran sebagai bentuk dominasi Barat.

Bagi Teheran, konflik dengan Amerika Serikat dan Israel bukan sekadar pertarungan militer. Ia juga dipahami sebagai pertarungan ideologis tentang kedaulatan, kehormatan bangsa, dan keyakinan politik.

Di sinilah dimensi spiritual dan ideologis menjadi unsur penting dalam politik Iran. Kepemimpinan Revolusi Islam 1979 di bawah Ayatollah Ruhollah Khomeini yang kemudian diteruskan oleh para penerusnya membangun narasi bahwa perjuangan melawan dominasi asing adalah bagian dari prinsip revolusi.

Revolusi itu sendiri lahir dari situasi sosial-politik Iran pada era Shah Mohammad Reza Pahlavi. Modernisasi yang dijalankan kerajaan kala itu memang membawa kemajuan ekonomi dan pendidikan, tetapi juga menimbulkan ketimpangan sosial dan represi politik terhadap oposisi.

Banyak kalangan ulama dan kelompok masyarakat merasa bahwa modernisasi yang terlalu dekat dengan Barat mengikis identitas budaya dan religius masyarakat Iran. Dari situ lahirlah gerakan revolusi yang akhirnya menjatuhkan monarki pada 1979.

Ayatollah Khomeini kemudian menjadi simbol perubahan besar itu. Ia membawa konsep negara Republik Islam yang menggabungkan unsur spiritual dan politik dalam sistem pemerintahan.

Pendekatan ideologis tersebut berhasil membangun solidaritas kuat di tengah masyarakat Iran. Keyakinan religius dipadukan dengan nasionalisme, menciptakan narasi bahwa mempertahankan kedaulatan negara adalah bagian dari pengabdian spiritual.

Bagi sebagian orang di luar Iran, konsep semacam ini mungkin terlihat ekstrem. Namun bagi sebagian masyarakat Iran sendiri, hal itu justru menjadi sumber kekuatan moral dalam menghadapi tekanan internasional.

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk memuji atau membenarkan seluruh kebijakan Iran. Perdebatan tentang perbedaan mazhab, politik regional, hingga strategi militer tentu tetap terbuka.

Namun setidaknya, peristiwa ini mengingatkan dunia bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak selalu lahir dari teknologi atau jumlah pasukan semata. Ia juga bisa lahir dari keyakinan, identitas, dan kesadaran kolektif tentang harga diri sebuah negara.

Dalam dunia yang semakin kompleks, konflik di Timur Tengah sering kali menjadi cermin bagaimana kekuatan global saling berhadapan. Tetapi di balik semua itu, ada satu pelajaran yang tetap relevan: bangsa yang memiliki keyakinan kuat terhadap identitas dan kedaulatannya cenderung lebih mampu bertahan menghadapi tekanan.

Barangkali pesan paling sederhana dari sejarah adalah bahwa kekuasaan dapat berganti, imperium dapat runtuh, tetapi semangat sebuah bangsa sering kali bertahan jauh lebih lama daripada konflik yang melahirkannya.

Sebagaimana ungkapan yang sering dikutip dari Ali bin Abi Thalib:

“Mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”

Abu Hudzaifah Takalar, 7 Maret 2026.

(Red/*)