Gedung MIN 2 Takalar Senilai Rp2,5 Miliar Ambruk, Dugaan Kegagalan Konstruksi Mengemuka

TAKALAR, INDIWARTA.COM – Proyek pembangunan gedung dua lantai Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Takalar di Desa Banggae, Kecamatan Mangarabombang, roboh saat masih dalam proses pengerjaan. Insiden yang terjadi pada Selasa (4/11/2025) sekitar pukul 17.00 Wita itu memunculkan dugaan kuat adanya kegagalan konstruksi dalam pelaksanaannya.

Seorang guru MIN 2 Takalar yang enggan disebut namanya mengatakan, bangunan tersebut tiba-tiba ambruk tanpa ada aktivitas pekerja maupun siswa di lokasi.

“Saya kebetulan lewat. Tiba-tiba saja runtuh. Untung tidak ada siswa atau pekerja di sekitar situ,” ujarnya.

Bangunan yang diproyeksikan memiliki ukuran sekitar 10 x 15 meter dengan struktur dua tingkat itu tampak ambruk pada bagian utama penopangnya. Warga sekitar, Daeng Tompo, menilai kegagalan konstruksi kemungkinan terjadi akibat kesalahan perhitungan dan pemasangan besi penyangga.

“Saya lihat besi dari cakar ayam hanya muncul sekitar 30 sentimeter. Harusnya minimal 1,5 meter untuk menopang lantai dua. Besinya patah, sambungannya tidak kuat,” kata dia, Jumat (7/11/2025).

Menurutnya, kualitas material bangunan juga patut dipersoalkan.

“Kalau material dari awal sudah tidak sesuai RAB, ya pasti tidak bertahan. Sekalipun nanti dibangun ulang, kalau standarnya begini, hasilnya tetap diragukan,” ujarnya.

Proyek pembangunan MIN 2 Takalar tersebut menelan anggaran Rp2.548.500.000, menggunakan dana APBN–SBSN Tahun Anggaran 2025. Program ini berada di bawah Kementerian Agama RI melalui Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan, dengan pelaksana CV. Mega Buana Persada dan konsultan pengawas CV. Lingkar Karya Consul. Proyek mulai dikerjakan sejak 23 September 2025, bahkan disebut berada dalam pendampingan Polda Sulawesi Selatan.

Namun hingga berita ini diterbitkan, pihak pelaksana proyek maupun konsultan pengawas belum memberikan keterangan resmi.

Insiden ini memunculkan pertanyaan publik terkait mutu pengawasan dan akuntabilitas penggunaan anggaran negara. Pemerhati konstruksi dan masyarakat lokal mendesak agar investigasi dilakukan secara transparan demi mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. (*)