Gapura Rp2 Miliar di Batas Takalar-Gowa Disorot, Warga Pertanyakan Nasib Perbatasan Takalar-Jeneponto yang Terlupakan

TAKALAR, INDIWARTA.COM – Proyek pembangunan gapura senilai Rp2 miliar di perbatasan Kabupaten Takalar dan Gowa menuai sorotan publik. Pasalnya, proyek yang kini sedang dalam proses pengerjaan itu hanya difokuskan di satu titik, sementara kondisi perbatasan Takalar dan Jeneponto justru dibiarkan rusak dan memprihatinkan.

Gapura megah yang disebut-sebut sebagai simbol gerbang masuk Kabupaten Takalar itu dinilai tidak mencerminkan pemerataan pembangunan. Warga menilai, perhatian pemerintah seharusnya tidak hanya tertuju pada wilayah yang bersebelahan dengan kota besar seperti Gowa dan Makassar, melainkan juga pada daerah perbatasan lainnya yang jauh lebih membutuhkan penataan.

“Batas Takalar dan Jeneponto itu sudah lama hancur. Kondisinya memprihatinkan, jalannya bangunan, tidak ada penerangan jalan, rumah warga pun jarang. Kawasan itu juga rawan tindak kriminal,” ujar salah satu pemerhati sosial di Takalar saat berbincang santai di sebuah warung kopi, Senin (4/11/2025).

Menurutnya, pembangunan gapura seharusnya dilakukan secara proporsional dan menyentuh wilayah-wilayah yang menjadi pintu masuk penting, bukan hanya kawasan yang terlihat strategis.

“Kalau mau mempercantik wajah Takalar, ya semua pintu masuk harus mendapat perhatian yang sama. Jangan hanya satu sisi yang diperindah, sementara sisi lain dibiarkan gelap dan rusak,” tambahnya.

Sejumlah warga yang kerap melintas di jalur perbatasan Takalar–Jeneponto juga menyuarakan hal serupa. Mereka mengeluhkan kondisi jalan yang rusak berat, minim penerangan, serta situasi malam hari yang rawan karena sepi dan gelap.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Takalar atau Dinas Pekerjaan Umum mengenai rencana penanganan perbatasan di wilayah selatan tersebut. Namun, publik berharap agar proyek pembangunan di Takalar tak hanya berorientasi pada estetika, melainkan juga memperhatikan aspek keselamatan dan pemerataan.

“Gapura itu penting untuk simbol, tapi keadilan pembangunan jauh lebih bermakna bagi masyarakat,” pungkas pemerhati itu. (*)