Usai Wisatawan Tewas Tenggelam, KKMB Soroti Keselamatan dan Retribusi di Apparalang

Pangeran Athar

BULUKUMBA, INDIWARTA.COM – Pengurus Besar Kerukunan Keluarga Mahasiswa Bulukumba (PB KKMB) mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut secara menyeluruh insiden tenggelamnya seorang wisatawan bernama Elmi di kawasan wisata Apparalang, Kabupaten Bulukumba, Minggu, (7/06/2026).

Peristiwa tragis yang merenggut nyawa wisatawan tersebut menjadi perhatian serius organisasi mahasiswa asal Bulukumba itu. Selain menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, KKMB menilai insiden tersebut harus menjadi momentum evaluasi terhadap tata kelola dan sistem keselamatan di destinasi wisata yang menjadi salah satu ikon pariwisata Bulukumba tersebut.

Ketua PB KKMB, Erik, mengatakan pihaknya turut berduka atas meninggalnya korban. Namun, menurut dia, sejumlah aspek terkait pengelolaan kawasan wisata Apparalang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum.

“Kami turut berduka cita atas meninggalnya saudari Elmi. Akan tetapi, peristiwa ini juga harus menjadi perhatian serius semua pihak. Ada sejumlah pertanyaan yang wajib dijawab terkait status pengelolaan wisata Apparalang, sistem keamanan pengunjung, hingga bentuk pengawasan yang selama ini dilakukan,” ujar Erik dalam keterangannya.

KKMB menyoroti dugaan belum optimalnya koordinasi antara pengelola kawasan wisata dengan pemerintah daerah. Organisasi tersebut juga meminta adanya kejelasan terkait pengelolaan retribusi yang selama ini diberlakukan kepada pengunjung, termasuk legalitas dan dasar hukum penarikannya.

Menurut KKMB, apabila terdapat aktivitas pemungutan retribusi di kawasan wisata tersebut, masyarakat berhak mengetahui mekanisme pengelolaannya serta sejauh mana dana tersebut digunakan untuk mendukung fasilitas dan keselamatan pengunjung.

Selain itu, KKMB menilai standar keselamatan di Apparalang perlu dievaluasi secara menyeluruh. Minimnya petugas pengawas, tidak tersedianya sistem peringatan dini terhadap kondisi ombak dan arus laut, serta keterbatasan sarana keselamatan menjadi sejumlah aspek yang dianggap perlu mendapat perhatian.

“Jangan sampai ada pihak yang memperoleh keuntungan dari aktivitas wisata, namun mengabaikan aspek keselamatan pengunjung,” kata Erik.

KKMB juga mendesak aparat penegak hukum untuk melakukan penyelidikan terhadap seluruh aspek yang berkaitan dengan insiden tersebut, termasuk menelusuri status legalitas pengelolaan kawasan wisata Apparalang dan pihak yang bertanggung jawab atas operasional destinasi wisata itu.

Dalam waktu dekat, KKMB berencana bersilaturahmi dengan keluarga korban sekaligus membawa persoalan tersebut ke tingkat Polda Sulawesi Selatan apabila tidak terdapat langkah konkret dari aparat penegak hukum di Kabupaten Bulukumba.

Di sisi lain, KKMB meminta Pemerintah Kabupaten Bulukumba segera melakukan evaluasi terhadap seluruh objek wisata alam yang memiliki tingkat risiko tinggi bagi pengunjung. Organisasi itu juga menilai Dinas Pariwisata Kabupaten Bulukumba perlu mengambil peran aktif dalam memastikan standar keselamatan diterapkan di setiap destinasi wisata.

“APH harus hadir untuk mengungkap fakta-fakta yang sebenarnya. Siapa yang bertanggung jawab atas pengelolaan kawasan wisata tersebut? Apakah prosedur keselamatan telah diterapkan dengan baik? Dan apakah ada unsur kelalaian yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa? Semua pertanyaan ini harus dijawab secara transparan demi keadilan bagi korban dan keluarganya,” ujar Erik.

KKMB menegaskan bahwa keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan destinasi wisata. Menurut mereka, tragedi yang menimpa Elmi tidak boleh terulang dan harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak untuk memperbaiki sistem pengawasan, keamanan, dan tata kelola kawasan wisata secara lebih bertanggung jawab. (*)