Menu MBG Dirapel Tiga Hari di Pinrang, Mahasiswa Curigai Pemangkasan Anggaran

PINRANG, INDIWARTA.COM –  Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi balita di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, menuai polemik. Unggahan di media sosial pada Selasa, (17/02/2026), menampilkan sajian menu makanan untuk balita di Desa Siwolong, Kecamatan Mattiro Sompe, yang disebut dirapel untuk jatah tiga hari, 17 hingga 19 Februari.

Sejumlah warga menilai porsi dan kualitas makanan yang dibagikan janggal dan tidak mencerminkan standar nilai Rp 8.000 per porsi. Sorotan publik pun meluas, terutama setelah foto menu tersebut beredar dan memicu perdebatan.

Reaksi keras datang dari kalangan akademisi. Presiden Mahasiswa Institut Cokroaminoto Pinrang menilai kebijakan merapel menu tanpa penjelasan terbuka mengabaikan prinsip transparansi dan akuntabilitas anggaran.

“Dari kejadian itu, jika dilihat dari menu rapelan yang disajikan, kami menduga ada pemangkasan anggaran yang disengaja,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Ia menekankan, setiap perubahan skema distribusi atau nilai menu wajib disertai alasan rasional yang disampaikan kepada publik. Tanpa itu, kecurigaan masyarakat sulit dihindari. Dampak langsung dari dugaan tersebut, kata dia, adalah menurunnya kualitas dan standar gizi per porsi yang menjadi hak dasar penerima manfaat.

“Ini bukan persoalan sepele yang hanya membutuhkan permohonan maaf. Ini adalah program pemerintah yang menggunakan anggaran negara,” ujarnya.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) kampus tersebut mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan biaya porsi MBG di tingkat kabupaten. Mahasiswa juga menuntut sanksi tegas, termasuk pencopotan pihak terkait jika terbukti terjadi praktik curang.

Tak hanya itu, mahasiswa meminta aparat penegak hukum terlibat aktif.

“Kami meminta aparat kepolisian tidak pasif. Lakukan pengawasan dan tindak cepat kejadian seperti ini,” tegasnya.

Di sisi lain, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mattombong St. Nur Anisah ramli, mengakui bahwa foto porsi makanan yang viral tersebut merupakan hasil produksi dapurnya. Namun ia menyebut telah menemui warga yang mengunggah foto tersebut.

“Pada 18 Februari saya datang kepada orang yang posting. Dia bilang tidak ada masalah, hanya memposting menu hari itu,” katanya saat dimintai klarifikasi.

Ia berdalih, perapelan jatah makan selama tiga hari itu baru pertama kali terjadi di wilayahnya. Selama ini, operasional dapur disebut berjalan normal tanpa keluhan berarti.

Meski demikian, pihak SPPG menyadari polemik ini tidak cukup diselesaikan dengan klarifikasi singkat.

“Kami tahu persoalan ini tidak hanya selesai dengan permohonan maaf. Kami akan tetap melakukan evaluasi dan memperbaiki ke depan,” ujarnya.

Polemik MBG di Pinrang kini menanti tindak lanjut konkret. Publik berharap program pemenuhan gizi yang menyasar kelompok rentan itu tetap berjalan sesuai standar, transparan, dan akuntabel. (Red/Yahya)