Songkok Anyam dari Balik Jeruji, Lapas Takalar Cetak Warga Binaan Terampil dan Lestarikan Budaya Lokal

Pangeran Athar

TAKALAR, INDIWARTA.COM – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Takalar terus mengembangkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan melalui produksi songkok anyam. Program ini menjadi salah satu pembinaan unggulan yang tidak hanya membekali warga binaan dengan keterampilan produktif, tetapi juga berkontribusi dalam pelestarian budaya lokal.

Kepala Subseksi Bimbingan Kerja Lapas Takalar, Rizal, mengatakan jumlah warga binaan yang mengikuti pelatihan menganyam songkok terus meningkat. Untuk menjaga keberlangsungan program, warga binaan yang telah memiliki kemampuan menganyam dilibatkan sebagai pembimbing bagi peserta baru.

“Kami terus melakukan kaderisasi kepada warga binaan baru. Mereka yang sudah mahir menganyam akan membimbing warga binaan lainnya sehingga keterampilan ini dapat terus berkembang,” kata Rizal, Rabu, (3/06/2026).

Menurut dia, hasil produksi songkok anyam yang dibuat warga binaan saat ini dipasarkan kepada para pengunjung Lapas. Harga jual produk tersebut berkisar antara Rp130 ribu hingga Rp150 ribu per buah, bergantung pada model dan motif yang dipilih.

Rizal menjelaskan, kapasitas produksi saat ini mencapai sekitar tiga songkok anyam setiap bulan. Meski masih terbatas, pihaknya optimistis jumlah produksi akan terus meningkat seiring bertambahnya warga binaan yang menguasai keterampilan tersebut.

Kepala Lapas Kelas IIB Takalar, Andi Gunawan, mengatakan pembinaan kemandirian menjadi bagian penting dalam proses pemasyarakatan. Karena itu, Lapas Takalar terus mengoptimalkan berbagai program keterampilan yang dapat menjadi bekal bagi warga binaan setelah kembali ke masyarakat.

Selain kerajinan songkok anyam, Lapas Takalar juga mengembangkan sejumlah program pembinaan lain, seperti perkebunan, perikanan, dan industri batako.

“Kami memiliki beberapa program pembinaan, seperti perkebunan, perikanan, industri batako, serta kerajinan songkok yang menjadi salah satu pembinaan unggulan di Lapas Takalar,” ujar Andi.

Ia menilai program songkok anyam memiliki nilai lebih karena tidak hanya meningkatkan keterampilan warga binaan, tetapi juga membantu menjaga warisan budaya lokal yang kini mulai kehilangan regenerasi pengrajin.

“Pengrajin songkok guru semakin berkurang. Karena itu, melalui pembinaan ini kami turut berupaya melestarikan budaya tersebut. Kami juga berterima kasih kepada pemerintah daerah atas dukungannya sehingga produk songkok anyam Lapas Takalar semakin dikenal masyarakat,” katanya.

Salah seorang warga binaan berinisial NP mengaku memperoleh pengalaman dan keterampilan baru selama mengikuti program tersebut. Ia menilai kegiatan itu memberikan manfaat positif selama menjalani masa pembinaan.

“Saya senang bisa terlibat dalam kegiatan ini karena memiliki aktivitas yang bermanfaat selama menjalani pembinaan. Harapannya, saat bebas nanti saya dapat mengembangkan keterampilan ini di masyarakat,” ujarnya.

Melalui program pembinaan berbasis keterampilan ini, Lapas Takalar berharap warga binaan memiliki bekal kerja yang dapat dimanfaatkan setelah bebas, sekaligus turut menjaga keberlangsungan salah satu kerajinan tradisional khas Sulawesi Selatan yang mulai langka. (*)