TAKALAR, INDIWARTA.COM – Pemerintah Kabupaten Takalar mempercepat langkah transformasi digital bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Desa Bottokasasi, Kecamatan Galesong Selatan, menjadi titik terbaru sosialisasi dan pelatihan digitalisasi UMKM yang digelar Jumat, (20/02/2026).
Program ini merupakan kolaborasi dengan AI Ready ASEAN dan AIM ASEAN dalam skema peningkatan kapasitas pelaku usaha desa berbasis teknologi digital.
Sejak pagi, ruang pertemuan desa dipadati pelaku usaha. Mereka datang membawa telepon genggam masing-masing untuk mengikuti praktik pendaftaran usaha secara digital. Antusiasme terlihat saat peserta mulai membuat profil bisnis dan memetakan lokasi usahanya secara daring.
Hadir dalam kegiatan itu Direktur Eksekutif Kaizen Collaborative Impact, Ismita Saputri, selaku Local Implementing Partner ASEAN Foundation dan Google.org untuk Program AI for MSME in Advertisement (AIM ASEAN). Turut hadir Camat Galesong Selatan Nurhidayat Abdullah Daeng Massuro serta Kepala Desa Bontokassi Muh Aksin Suarso.
Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, menegaskan digitalisasi UMKM bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
“Alhamdulillah di awal puasa ini kita melaksanakan kegiatan, mudah-mudahan ini bermanfaat dan memberikan kemudahan bagi seluruh peserta UMKM,” ujar Daeng Manye.
Menurut dia, kegiatan serupa telah digelar secara bergilir di berbagai desa dan kelurahan. Tujuannya sederhana: membuat usaha warga lebih laku dan dikenal luas.
“Tujuannya apa? Biar pelaku usaha, usahana akkulle lebih laku usahana. Supaya usahanya lebih laku dan lebih dikenal orang,” katanya.
Dalam sesi dialog interaktif, Bupati meminta peserta mengangkat tangan sesuai jenis usaha yang digeluti. Mulai dari kuliner, penjual gabah, pupuk, kambing, hingga pengrajin Songkok Guru berbahan serat lontar. Ada pula pelaku salon kecantikan, penjahit, dan bengkel motor.
Suasana mencair ketika ia berseloroh, “Kalau usaha tidak mau laku, itu namanya sinting.” Gelak tawa pun pecah. Namun pesannya tegas: setiap usaha harus punya kemauan untuk berkembang.
Daeng Manye menekankan, kunci agar usaha berkembang adalah hadir di internet. “Rata-rata punya HP toh? Karena usaha ini harus ada di HP. Ada HP, ada juga pulsanya. Jangan ada HP-nya tapi tidak ada pulsanya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, jika usaha telah terdaftar secara digital, calon pembeli dari Makassar bahkan luar daerah cukup mengetik kata kunci di mesin pencarian untuk menemukan produk UMKM Bottokasasi.
“Orang mau cari Songkok Guru asli Takalar, tinggal buka Google. Klik, langsung keluar lokasinya,” katanya.
Ismita Saputri menambahkan, pihaknya hadir untuk memastikan pelaku UMKM desa tidak tertinggal dalam era digital. “Kami ingin UMKM desa punya lapak digital. Tidak harus sewa ruko mahal, cukup dengan HP dan kemauan belajar,” ujarnya.
Tim AIM ASEAN, kata dia, akan mendampingi peserta membuat profil bisnis, mengunggah foto produk, hingga mengatur titik lokasi di Google Maps.
Camat Galesong Selatan mengapresiasi langkah Pemkab Takalar menggandeng mitra nasional. Ia mengingatkan peserta agar tidak berhenti pada tahap sosialisasi semata.
Sementara itu, Kepala Desa Bontokassi menyebut mayoritas warganya bergerak di sektor usaha rumahan dan kerajinan. Ia optimistis, jika digitalisasi berjalan konsisten, ekonomi desa akan terdongkrak.
Pelatihan ditutup dengan sesi praktik langsung pendaftaran profil bisnis. Peserta didampingi satu per satu oleh tim pendamping. Program ini diharapkan menjadi pintu masuk digitalisasi UMKM Takalar secara menyeluruh, sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk desa. (*)












