Ulas Dampak dan Celah Guru Penggerak, Sarianto Raih Doktor dengan IPK 3,82

TAKALAR, INDIWARTA.COM – Program Guru Penggerak yang digagas pada era Menteri Pendidikan Nadiem Anwar Makarim dinilai memberi dampak signifikan terhadap praktik pembelajaran di sekolah. Program ini mendorong perubahan pendekatan, dari yang berpusat pada guru menjadi berorientasi pada partisipasi aktif siswa.

Namun, perubahan kepemimpinan di kementerian turut menggeser arah kebijakan. Program tersebut kini dihentikan dan digantikan dengan skema baru, memicu kebutuhan evaluasi atas capaian dan kekurangannya.

Hal itu yang melatarbelakangi Sarianto, mahasiswa Program Doktor Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM), menyusun disertasi tentang evaluasi Program Guru Penggerak.

“Setiap program memiliki kelebihan dan tantangan. Evaluasi penting agar kebijakan baru dibangun di atas dasar yang kuat,” ujar Sarianto.

Ia resmi meraih gelar doktor dalam sidang promosi yang digelar di Gedung Pascasarjana UNM, Makassar, Jumat (24/4/2026). Sidang dipimpin Prof Wahira, dengan promotor Prof Hamsu Abdul Gani dan kopromotor Dr Ansar.

Tim penguji terdiri dari Prof Ismail Tolla, Prof Kamaruddin Hasan, dan Dr Herlina sebagai penguji internal, serta Prof Bambang Budi Wiyono sebagai penguji eksternal. Sarianto dinyatakan lulus dengan IPK 3,82 dan predikat cumlaude.

Dalam penelitiannya, Sarianto mengkaji faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan Program Guru Penggerak pada guru sekolah dasar di Kabupaten Takalar. Ia menemukan bahwa dukungan pemerintah daerah, kualitas guru, serta dukungan sosial menjadi faktor kunci keberhasilan program.

Menurut dia, program tersebut memberi ruang bagi guru untuk lebih kreatif sekaligus bertransformasi menjadi pemimpin pembelajaran.

“Guru tidak hanya mengajar, tetapi mendorong siswa aktif, berpikir kritis, dan berani berpendapat,” katanya.

Adapun faktor penghambat meliputi keterbatasan waktu guru mengikuti program, penguasaan dan ketersediaan teknologi, serta minimnya anggaran untuk inovasi pembelajaran.

Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi rujukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pendidikan pengganti.

“Capaian baik harus dipertahankan, sementara kekurangannya diperbaiki,” ujar Sarianto.

Dengan capaian ini, Sarianto tercatat sebagai doktor kesembilan pada Program Studi Administrasi Pendidikan Pascasarjana UNM.

Jejak Akademik dan Pengabdian

Sarianto lahir di Paririsi, Kabupaten Takalar, 15 Juni 1982. Ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Takalar sebelum melanjutkan studi di STAI YAPIS Takalar.

Kariernya sebagai aparatur sipil negara dimulai pada 2009 sebagai guru sekolah dasar. Ia kemudian melanjutkan studi magister di Pascasarjana UNM dan lulus pada 2019.

Selain aktif di dunia pendidikan, Sarianto juga terlibat dalam berbagai organisasi, di antaranya KNPI, PGRI, dan ICMI Takalar, serta pernah menjabat di sejumlah posisi pemerintahan daerah, mulai dari kepala desa hingga pejabat di Dinas Pendidikan.

Perjalanan akademiknya mencapai puncak setelah menuntaskan studi doktoral di UNM, menandai konsistensinya dalam dunia pendidikan sekaligus kontribusinya terhadap pengembangan kebijakan berbasis riset. (*)