TAKALAR, INDIWARTA.COM – Di sebuah bengkel motor sederhana di Lingkungan Palleko 2, Jalan Poros Takalar, aroma kopi panas menyambut siapa saja yang datang. Bukan warung kopi, bukan pula kedai kekinian. Di sinilah Bengkel Darwis Daeng Lirong menjadi ruang pertemuan tak resmi sekaligus tempat berbagi cerita bagi warga Polongbangkeng Utara.
Setiap pagi, mulai pukul 07.30 hingga 10.00 Wita, masyarakat mulai dari anak muda, bapak-bapak, hingga pegawai kantoran datang silih berganti. Mereka duduk santai, menyeruput kopi hitam panas yang disajikan gratis.
“Inimi kopi untuk semua orang yang datang pagi-pagi. Kita mau suasana kekeluargaan itu tetap ada,” kata Darwis Daeng Lirong, pemilik bengkel, dengan senyum yang tak pernah absen.
Ia tidak sendiri. Di sudut meja, seorang pria yang dikenal dengan sapaan Pak Bos Abdul Samad Daeng Ngasa tampak sibuk meracik kopi bagi pengunjung yang datang. Mereka bekerja bergantian: satu memperbaiki mesin motor, satu lagi mengisi ulang cangkir-cangkir kosong.
Tradisi ini sudah berjalan lebih dari satu tahun. Antusiasme warga semakin hari semakin meningkat. Begitu ramainya, air untuk kopi harus direbus hingga tiga kali setiap pagi agar semua kebagian.
Bagi sebagian orang, kopi mungkin hanya minuman. Namun di bengkel kecil ini, kopi menjadi alasan bertemu, berbicara, bersenda gurau, dan mempererat hubungan sosial yang mulai jarang ditemui di era digital.
“Kita bisa liat banyak orang sekarang sibuk sendiri dengan HP. Di sini, orang bicara, ketawa, kenal tetangga baru,” ujar seorang pengunjung sambil menepuk meja kayu yang telah dipenuhi noda kopi.
Tradisi sederhana ini memberi pesan penting: kebersamaan bisa lahir dari hal kecil, sepanjang ada niat berbagi dan hati yang tulus.
Di Takalar, rupanya secangkir kopi gratis bisa menjadi cara menjaga persaudaraan tanpa spanduk, tanpa acara resmi, hanya niat baik yang diseduh setiap pagi. (*)












