TAKALAR, INDIWARTA.COM – Maraknya aksi pembusuran yang melibatkan kalangan remaja di Kabupaten Takalar belakangan ini memicu keprihatinan berbagai pihak. Fenomena yang viral di media sosial tersebut dinilai sebagai tanda meningkatnya kerentanan sosial di kalangan generasi muda, Jum’at (12/06/2026).
Sorotan datang dari Ruslan, penggiat penegakan hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang berdomisili di Desa Banggae, Kecamatan Mangarabombang. Ia menilai maraknya aksi kriminalitas remaja merupakan alarm serius yang tidak boleh diabaikan oleh pemerintah maupun aparat pembina di tingkat desa.
Menurut Ruslan, sejumlah faktor menjadi pemicu menurunnya kualitas perilaku remaja, mulai dari kurangnya pengawasan hingga minimnya pembinaan yang berkelanjutan.
“Kita melihat remaja saat ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk aktivitas yang kurang produktif. Jika kondisi ini tidak diantisipasi dengan pembinaan yang masif dan tindakan yang tepat, maka masa depan generasi muda akan menjadi taruhannya,” kata Ruslan dalam keterangannya.
Kekhawatiran itu, kata dia, bukan tanpa alasan. Dalam beberapa bulan terakhir, Desa Banggae diwarnai sejumlah kasus kriminalitas yang meresahkan masyarakat. Di antaranya pencurian amplifier masjid, suku cadang handtraktor milik warga, hingga tabung gas LPG 3 kilogram.
Ruslan menilai berbagai kejadian tersebut menunjukkan adanya persoalan sosial yang perlu segera ditangani secara serius. Ia juga mengaku telah menyampaikan kritik dan masukan terkait kondisi tersebut kepada pihak terkait, termasuk melalui Camat Mangarabombang.
Namun, menurutnya, respons yang diberikan sejauh ini belum mampu menjawab keresahan masyarakat. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah bersama aparat keamanan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola pembinaan yang selama ini berjalan.
Ia secara khusus mendorong para pembina desa agar lebih aktif menjalankan fungsi deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. Selain itu, pembinaan moral dan karakter remaja dinilai perlu diperkuat melalui keterlibatan berbagai unsur masyarakat.
“Kami berharap para pembina desa dapat lebih progresif dalam menjalankan amanahnya. Fokus utama mereka adalah melakukan deteksi dini, pembinaan moral remaja, serta menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat agar potensi kriminalitas dapat dicegah sejak awal,” ujarnya.
Ruslan juga mengajak tokoh agama, tokoh masyarakat, dan para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka. Menurut dia, penanganan kenakalan remaja dan aksi kekerasan tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Ia berharap langkah-langkah preventif segera dilakukan sebelum aksi pembusuran dan bentuk kriminalitas lainnya menimbulkan korban yang lebih besar di tengah masyarakat. (*)












