MAKASSAR, INDIWARTA.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang digagas oleh Presiden RI Prabowo Subianto, perlunya lebih didukung dan dijalankan dengan baik dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya bagi anak-anak usia sekolah.
Mendukung dan menjalankan dengan profesional program pemenuhan gizi anak, akan berdampak langsung juga terhadap pertumbuhan ekonomi lokal secara nasional, khususnya pula di Sulawesi Selatan.
Namun, seiring berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG), bahwa banyak pula oknum-oknum yang sengaja bermain dalam program tersebut, hingga terjadinya kisruh di tiap daerah.
Hal tersebut, diterangkan oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Mitra Dapur Indonesia (Gapimdo) Syamsul Tribuana. Dikatakan, para pengusaha mitra Dapur Mandiri di Sulawesi Selatan, hingga saat ini menjadi resah. “Karena, sepertinya terjadi sabotase pencaplokan titik dapur. Tiba-tiba tanpa verifikasi ke pihak pengusaha dapur, tiba-tiba berubah status di tolak,” ungkapnya, melalui keterangannya, Kamis (7/8/2025).
“Pada hal, titik dapur tersebut sudah ada petugas SPPI nya dan bahkan dapur sudah lengkap 100 persen,” jelasnya.
Persoalan yang sering terjadi, yakni banyaknya dapur MBG yang sejatinya sudah selesai 100 persen, ternyata tidak terdata di BGN. Padahal, kataTribuana, dapur MBG atau SPPG tersebut telah dilengkapi seluruh sarana dan prasarana. Mulai dari alat-alat dapurnya, alat masak hingga kendaraan operasional.
“Kenyataannya adalah tidak terdaftar di BGN. Berarti, tidak sinkron antara data dengan fakta di lapangan. Padahal para mitra dapur ini, sudah 100 persen dibiayai oleh masyarakat,” tuturnya.
Hal Ini, lanjutnya, membuat banyak pengusaha mitra dapur ini, trauma dengan kelakuan BGN yang tidak profesional dalam mengelolah titik dapur yang ada di wilayah Sulawesi Selatan.
“Mengenai kisruhnya titik dapur yang ada di sejumlah provinsi hingga di Sulsel, saya saat ini akan bertemu dengan Kepala BGN, untuk memperjelas dan pertanyakan hal tersebut,” tegas Tribuana.
Lokasi atau daerah titik dapur yang bermasalah di Sulawesi Selatan, diantaranya Kabupaten Barru, Pinrang, Wajo, Sidrap, Jeneponto, Takalar, Gowa, Bone, Kota Makassar, Kota Pare-pare.
Dijelaskannya lagi, contohnya seperti di Kabupaten Wajo, itu ada sebuah dapur yang sudah jadi, namun setelah itu dibatalkan.
Diketahui pula, adapun titik dapur yang bermasslah, yakni sekitar kurang lebih 50 dapur. (Arman)












