Robot Nurlatu Bantah Tegas Klaim Kepemilikan Gunung Botak: “Itu Hoaks!”

MALUKU BURU, INDIWARTA.COM – Tokoh adat Porwisi Watemun, Robot Nurlatu, angkat bicara terkait pemberitaan yang menyebut dirinya mengakui lahan Gunung Botak milik Soar Pito-Soar Pa dan ahli waris Jou Wakabo Tamar Pa. Dengan tegas, ia membantah informasi tersebut dan menyebutnya sebagai berita bohong alias hoaks.

“Itu berita bohong. Saya tidak pernah menyatakan seperti itu, baik lewat media maupun lewat orang lain,” tegas Robot Nurlatu saat diwawancarai, Kamis (24/7/2025).

Ia menyebutkan, berita yang beredar di media online sejak Selasa (22/7/2025) sama sekali tidak benar. Bahkan kunjungan Jou Tifu Roy Behuku ke kediamannya hanya bersifat silaturahmi tanpa pembahasan apapun terkait lahan Gunung Botak.

“Kedatangan Jou Tifu ke rumah saya murni silaturahmi, tidak ada pembicaraan soal lahan Gunung Botak. Ini fitnah yang mencederai nama baik kami,” tambahnya.

Selain itu, Robot Nurlatu juga menepis kabar bahwa dirinya mendukung rencana pemerintah untuk melegalkan aktivitas pertambangan emas Gunung Botak melalui koperasi. Menurutnya, ia tetap menghargai upaya pemerintah, namun menekankan pentingnya penghormatan terhadap hak-hak adat.

“Sebagai tokoh adat, saya menghormati langkah pemerintah. Tapi koperasi juga harus menghargai masyarakat adat. Minimal, datang dan berkoordinasi dulu dengan para pemilik lahan,” jelas Robot.

Ia kemudian menegaskan, kepemilikan tanah di kawasan Gunung Botak atau Kaku Lea Bumi berada di bawah tiga tungku adat, yakni:

  1. Raja Kaiely Fandi Ashari Wael
  2. Hinolong Baman Manaliling Besan
  3. Robot Nurlatu sendiri

Sementara itu, Awhi Nurlatu, anggota keluarga besar Nurlatu, juga menyampaikan keberatan keras atas pemberitaan hoaks tersebut. Ia menyebut keluarga besar Nurlatu akan menempuh jalur hukum untuk menjaga nama baik mereka.

“Ini bukan sekadar berita bohong, tapi sudah menyangkut kehormatan keluarga besar kami. Kami akan ambil langkah hukum terhadap pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujar Awhi.

Awhi juga mengingatkan pentingnya etika jurnalistik bagi para wartawan.

“Jurnalis seharusnya melakukan verifikasi dan cek fakta sebelum menaikkan berita. Ini adalah tanggung jawab moral dan profesional agar masyarakat tidak disesatkan oleh informasi yang keliru,” tegasnya.

(Feri)