JAKARTA, INDIWARTA.COM – Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, tengah menjadi pusat perhatian publik setelah sejumlah pernyataannya yang dinilai kontroversial mencuat dalam beberapa kesempatan resmi.
Dalam peluncuran layanan kesehatan di Jakarta Pusat pada Rabu (14/5), Menkes Budi menyatakan bahwa pria dengan ukuran celana jeans di atas 32–33 cenderung mengalami obesitas dan berisiko lebih tinggi mengalami kematian dini. Pernyataan itu sontak mengundang respons beragam dari masyarakat, sebagian menganggapnya sebagai bentuk body shaming.
Menanggapi kritik yang muncul, Menkes Budi menegaskan bahwa pernyataannya bukan bertujuan untuk mempermalukan bentuk tubuh siapa pun, melainkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkar pinggang demi mencegah penyakit kronis.
Namun, belum reda polemik tersebut, pernyataan kontroversial lainnya kembali dilontarkan Menkes dalam acara “Double Check” di Jakarta Pusat pada Sabtu (17/5). Dalam kesempatan itu, ia menyebut bahwa orang dengan penghasilan Rp 15 juta per bulan pasti lebih sehat dan pintar dibanding mereka yang bergaji Rp 5 juta.
“Apa sih bedanya orang yang gajinya Rp 15 juta sama Rp 5 juta? Cuma dua, satu, pasti lebih sehat dan lebih pintar,” ucap Menkes Budi. Ia menyatakan bahwa jika seseorang tidak sehat dan tidak pintar, kecil kemungkinan memiliki penghasilan tinggi.
Pernyataan tersebut menuai gelombang kritik dari berbagai kalangan, karena dianggap menyederhanakan persoalan struktural terkait kesehatan dan pendidikan. Selain itu, komentar tersebut dinilai berpotensi menyinggung masyarakat berpenghasilan rendah yang juga berjuang untuk hidup sehat dan produktif.
Menkes Budi menyampaikan bahwa tujuannya adalah untuk mendorong target Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2045, yang menurutnya mensyaratkan rata-rata pendapatan warga sebesar Rp 15 juta per bulan.
Pernyataan Menkes Budi menjadi perbincangan hangat di media sosial dan ruang publik. Banyak pihak menilai bahwa pejabat publik perlu lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat, terutama yang menyangkut isu sensitif seperti kesehatan dan kesenjangan sosial.
(*/Red)












