indiwarta MAKASSAR — Krisis antrean kendaraan untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, semakin parah. Panjang antrean kendaraan roda dua maupun roda empat bahkan dilaporkan meluber hingga mengular sejauh 750 meter dan memicu kemacetan di sejumlah ruas jalan protokol.
Menanggapi keluhan masyarakat yang masif di media sosial, Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, langsung bergerak cepat dengan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke salah satu titik parah, yakni di SPBU 74.902.31 Jalan A.P. Pettarani, Makassar.
Dalam sidaknya, Gubernur mendapati sejumlah persoalan teknis di lapangan yang memperparah situasi. Dari total empat nozzle (selang pengisian) yang tersedia untuk kendaraan, ironisnya hanya dilayani oleh satu orang operator saja, sementara tiga nozzle lainnya dibiarkan menganggur.
“Bagaimana orang tidak antre kalau empat nozzle pengisian hanya satu operator yang melayani? Ini harus segera ditertibkan, wajib satu nozzle satu orang,” tegas Andi Sudirman di lokasi.
Selain masalah minimnya petugas pelayanan yang berstatus tenaga training, sidak tersebut juga mengungkap adanya pemicu lain seperti aksi panic buying warga serta indikasi pengisian berulang menggunakan modifikasi kendaraan.
Sebelumnya, pihak Pertamina mengeklaim bahwa pasokan BBM sebenarnya dalam kondisi aman dan mengimbau masyarakat agar tidak panik. Kendati demikian, antrean panjang yang telah berlangsung berpekan-pekan ini telanjur mengganggu aktivitas ekonomi harian, mobilitas logistik, hingga memicu ancaman aksi mogok massal dari aliansi angkutan darat akibat kerugian waktu di jalan.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama aparat penegak hukum dan pihak terkait kini terus memperketat pengawasan distribusi di lapangan serta meminta manajemen SPBU mempercepat optimalisasi pelayanan guna mengurai kemacetan parah di Kota Makassar.
*red












