TAKALAR, INDIWARTA.COM – Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar rutin dari Masjid At-Taubah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Takalar. Di balik tembok pemasyarakatan, puluhan warga binaan mengikuti program pemberantasan buta aksara Al-Qur’an yang digelar enam kali dalam sepekan sebagai bagian dari pembinaan kepribadian.
Program tersebut merupakan hasil kerja sama antara Lapas Takalar dan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Takalar. Selain membimbing kemampuan membaca Al-Qur’an, para penyuluh agama juga memberikan pembinaan akhlak dan penguatan nilai-nilai keislaman bagi peserta.
Salah seorang penyuluh agama, Baharuddin, mengatakan pembelajaran tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca, tetapi juga diarahkan untuk membentuk karakter dan memperkuat kesadaran spiritual warga binaan.
“Di sela-sela pembelajaran membaca Al-Qur’an, kami juga memberikan pembinaan akhlak agar peserta tidak hanya memahami bacaan Al-Qur’an, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Baharuddin, Kamis, (18/06/2026).
Menurut dia, pembinaan keagamaan menjadi salah satu sarana penting untuk membangun kesadaran diri, memperkuat spiritualitas, serta menumbuhkan motivasi warga binaan untuk memperbaiki perilaku selama menjalani masa pidana.
Kepala Lapas Kelas IIB Takalar, Andi Gunawan, menegaskan bahwa pembinaan kepribadian merupakan bagian utama dari proses pemasyarakatan. Melalui pendekatan rohani, warga binaan diharapkan mampu menjalani proses perubahan diri yang lebih bermakna.
“Pembinaan kepribadian kami arahkan untuk membangun kesadaran dan perubahan perilaku warga binaan sehingga mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat. Salah satu hasil positif yang terlihat adalah meningkatnya kemampuan warga binaan dalam membaca Al-Qur’an,” ujarnya.
Andi juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Agama Kabupaten Takalar dan seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam mendukung berbagai program pembinaan di Lapas Takalar.
Menurutnya, sinergi antarinstansi menjadi faktor penting dalam menciptakan pembinaan yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi warga binaan.
Sementara itu, seorang warga binaan berinisial FD mengaku merasakan manfaat besar dari program tersebut. Ia menilai kegiatan belajar Al-Qur’an menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus melakukan refleksi diri selama menjalani masa pembinaan.
“Inilah hikmah saya berada di sini. Di luar kami jarang menyentuh Al-Qur’an, tetapi di sini kami bisa lebih dekat dan belajar memahaminya dengan lebih baik,” tuturnya.
Melalui program yang berlangsung secara rutin itu, Lapas Takalar berharap proses pembinaan tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi bekal moral dan spiritual bagi warga binaan saat kembali ke tengah masyarakat. (*)












