JAKARTA, INDIWARTA.COM – Emas yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) mulai menunjukkan perubahan karakter pada 2026. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan penguatan dolar Amerika Serikat, logam mulia ini justru bergerak sebagai aset berisiko.
Analis komoditas dari HSBC Asset Management menilai pergerakan emas belakangan ini bertolak belakang dengan asumsi konvensional. Dalam kondisi ketidakpastian global, harga emas biasanya menguat. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Mengutip laporan Kitco News, harga emas tercatat merosot hingga 15 persen sepanjang Maret 2026. Penurunan tajam ini terjadi meski tensi geopolitik meningkat, termasuk konflik di Timur Tengah.
“Pergerakan harga emas sejak konflik di Iran pecah telah menentang ekspektasi,” kata analis HSBC. Mereka menilai perubahan struktur pasar menjadi salah satu faktor utama.
Kepemilikan emas kini lebih banyak didominasi investor ritel dan pelaku pasar dengan leverage tinggi. Dalam situasi tekanan pasar, kelompok ini cenderung melakukan likuidasi cepat, sehingga menekan harga emas lebih dalam.
Selain itu, penguatan dolar AS turut menjadi hambatan signifikan. Nilai tukar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor non-AS. Di saat bersamaan, kebijakan suku bunga yang agresif meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Pada perdagangan Kamis (2/4/2026), harga emas dunia kembali tertekan. Emas spot ditutup turun 1,72 persen ke level US$ 4.676,28 per troy ons, sementara kontrak berjangka emas AS melemah 2,29 persen ke US$ 4.702,7 per troy ons.
Meski demikian, prospek jangka panjang emas dinilai belum sepenuhnya suram. Analis melihat tren de-dolarisasi global masih membuka ruang bagi logam mulia ini untuk tetap menjadi instrumen investasi yang menarik.
“Masih ada prospek investasi jangka panjang yang layak untuk emas, terutama di tengah tren de-dolarisasi global,” ujar analis HSBC.
Perubahan dinamika ini menandai bahwa emas tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap tekanan pasar. Investor pun diingatkan untuk lebih cermat membaca risiko, seiring bergesernya peran emas dari aset aman menjadi instrumen yang juga rentan terhadap gejolak global. (*)












