Ini Alasan Warga Mapsu dan Marbo Tidak Lagi Dukung Syamsari

Pangeran Athar

TAKALAR, INDIWARTA.COM – Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Takalar pada 27 November 2024, warga Kecamatan Mappakasunggu (Mapsu) dan Mangarabombang (Marbo) mulai beralih mendukung pasangan calon (Paslon) nomor 1, Daeng Manye-Hengki Yasin. Dukungan ini banyak disuarakan warga melalui media sosial dalam bentuk video dan testimoni.

Dalam berbagai unggahan, warga menyatakan kekecewaannya terhadap kepemimpinan Bupati Syamsari Kitta (SK) selama lima tahun terakhir. Umar Daeng Situju, salah satu warga Mapsu, menyebut alasan utamanya adalah janji-janji yang tidak terealisasi.

“Paccei no 2 boss, pajanji-janjiji tena na tepati, bajikangngi no 1 beruamo rong,” ungkapnya. Ia juga menyoroti kondisi jalan di desanya yang sudah lama rusak parah, sehingga tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.

Kekecewaan serupa diungkapkan Karaeng Fatta, warga Pangnyangkalang, Marbo, yang mengaku telah kehilangan kepercayaan pada Syamsari. Dalam video yang diunggahnya, ia menyatakan, “Tenamo kujokjoki Samsari, ka pajanji-janji ji. Manna sapia ta niak battu, bajikangngangi Mae dukungi Dg Manye.” Ia mengeluhkan program bantuan sapi yang dijanjikan selama kampanye sebelumnya tidak pernah terealisasi, sehingga ia memilih untuk mendukung Paslon nomor 1.

Selain itu, isu kekeringan dan minimnya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan air bersih juga menjadi keluhan utama warga Marbo. Salah seorang warga mengungkapkan bahwa setiap musim kemarau panjang, desanya mengalami krisis air bersih tanpa ada solusi dari pemerintah daerah. Kondisi ini semakin diperparah oleh rusaknya infrastruktur jalan yang menjadi akses utama aktivitas warga.

Hj. Tania, warga Mapsu, juga menyatakan kekecewaannya terhadap janji-janji yang tidak ditepati oleh kepemimpinan sebelumnya.

“Saya mendukung Paslon nomor 1 dengan harapan mereka bisa membantu modal usaha kami. Tidak seperti Paslon nomor 2 yang hanya janji. Janji sapi sampai sekarang tidak ada, janji bantuan modal juga tidak ada,” ujarnya tegas.

Fenomena peralihan dukungan ini menunjukkan bahwa warga mulai mencari pemimpin baru yang dianggap mampu membawa perubahan nyata. Paslon nomor 1, Daeng Manye-Hengki Yasin, dinilai sebagai pilihan terbaik untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang selama ini terabaikan, terutama dalam hal infrastruktur, bantuan ekonomi, dan penyelesaian masalah kekeringan.

Dengan waktu yang semakin dekat menuju hari pemilihan, dinamika politik di Takalar kian memanas. Apakah dukungan besar terhadap Paslon nomor 1 ini akan membawa perubahan di Pilkada mendatang? Warga Takalar akan menentukan masa depan daerahnya di bilik suara pada 27 November nanti.

(*)