Prof. Anshori Ilyas: Promotor yang Egaliter dan Inspiratif

MAKASSAR, INDIWARTA.COM – Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Pepatah ini menggambarkan bagaimana setiap orang akan dikenang berdasarkan perbuatan dan kontribusinya semasa hidup. Secara teologis, Al-Qur’an mengingatkan bahwa kullu nafsin daiqotul maut—semua yang bernyawa pasti akan menemui kematian, tanpa bisa dimajukan atau ditunda. Kabar duka kepergian Prof. Dr. Anshori Ilyas, S.H., M.H., pada Jum’at, 20 Desember 2024, menyentak hati saya. Ingatan saya seketika melayang pada momen-momen berharga bersama beliau, seorang promotor yang egaliter dan inspiratif dalam perjalanan studi doktoral saya.

Sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Prof. Anshori tidak hanya dikenang sebagai seorang akademisi yang luar biasa, tetapi juga sebagai pribadi yang sederhana, bersahaja, dan memiliki visi tajam dalam pembangunan hukum, khususnya di bidang ketatanegaraan. Lahir pada 7 Juni 1956, beliau mengabdikan hidupnya untuk menciptakan generasi intelektual yang berintegritas. Keteladanan yang beliau tunjukkan menjadi warisan abadi bagi keluarga, rekan sejawat, mahasiswa, hingga masyarakat luas. Pesan W.S. Rendra, “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata,” terasa begitu tepat menggambarkan kehidupan beliau, yang penuh dedikasi dan pengabdian tanpa batas.

Sebagai mahasiswa bimbingan, saya beruntung merasakan langsung kebaikan hati dan keilmuan beliau. Dalam proses penyelesaian disertasi, Prof. Anshori selalu menjadi pendamping diskusi yang bijak, memberikan arahan yang sistematis dan solusi yang mencerahkan. Diskusi bersama beliau terasa egaliter—tanpa sekat hierarki—dan membuka ruang luas untuk menyampaikan gagasan. Dalam setiap bimbingan, beliau tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga mendorong saya untuk berpikir kritis dan menggali lebih dalam. Sikap ini mencerminkan keberpihakan beliau pada pengembangan kapasitas intelektual mahasiswanya.

Saya masih teringat momen bimbingan pada Agustus 2024, di ruang kerja beliau di Dekanat FH-Unhas. Beliau meluangkan waktu dengan sabar, tanpa batasan, hingga semua kebingungan saya tercerahkan. Beliau adalah seorang guru besar sejati yang tidak hanya mengarahkan, tetapi juga menginspirasi dengan cara yang hangat dan humanis. Diskusi dengan beliau tidak pernah terasa menegangkan, justru menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan. Argumentasi beliau yang lugas dan holistik meneguhkan posisi beliau sebagai sosok yang benar-benar menguasai bidangnya.

Kepergian Prof. Anshori meninggalkan duka mendalam, tetapi juga meninggalkan jejak keteladanan yang akan terus hidup di hati kami. Beliau adalah mata air kehidupan, monumen intelektual yang akan selalu dikenang. Pemikiran dan semangat beliau akan menjadi warisan yang terus mengalir, menginspirasi generasi penerus untuk selalu berpikir, berdiskusi, dan berjuang demi kebenaran. Selamat jalan, Prof. Pikiran, kebaikan, dan keberpihakanmu akan selalu menjadi pelajaran berharga bagi kami semua.

Oleh: Ferry Tas, S.H., M.Hum., M.Si.

(Asisten Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara Kejati Sulsel / Mahasiswa Bimbingan Prof. Anshori Ilyas)