MAKASSAR, INDIWARTA.COM – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) menggelar aksi unjuk rasa di Pertigaan Jl. A.P. Pettarani dan Hertasning, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka menolak Revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI) yang dinilai sebagai ancaman bagi demokrasi.
Dalam aksi tersebut, massa membentangkan spanduk bertuliskan “TOLAK RUU TNI: ANCAMAN DEMOKRASI” serta menyuarakan beberapa tuntutan utama, di antaranya:
1. Menolak pembahasan RUU TNI, khususnya Pasal 3 dan Pasal 47 ayat (2).
2. Mendesak Majelis Kehormatan Dewan (MKD) untuk memeriksa oknum yang terlibat dalam pembahasan RUU TNI di Hotel Fairmont Jakarta.
3. Menuntut pencopotan KSAD Maruli Simanjuntak atas pernyataannya yang kontroversial.
Aksi protes ini juga diwarnai dengan pembakaran ban bekas serta penyanderaan truk tronton sebagai panggung orasi, yang mengakibatkan kemacetan panjang di sekitar lokasi demonstrasi.
RUU TNI Dinilai Bermasalah dan Mengancam Demokrasi
RUU TNI yang tengah dibahas oleh Pemerintah dan DPR RI menuai kritik dari berbagai pihak. Sejak 11 Maret 2025, pemerintah telah menyerahkan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) RUU TNI kepada parlemen, tetapi substansinya dinilai masih bermasalah.
Menurut Respek, selaku Jenderal Lapangan aksi, perluasan jabatan sipil bagi militer dalam RUU TNI merupakan bentuk dwifungsi TNI yang tidak sesuai dengan prinsip demokrasi.
“Ironisnya, pembahasan RUU TNI dilakukan secara diam-diam di Hotel Fairmont Jakarta pada 15 Maret 2025. Ini jelas melanggar regulasi dan prinsip demokrasi. Seharusnya, setiap pembuatan regulasi harus melibatkan partisipasi publik,” tegas Respek dalam orasinya.
Pernyataan KSAD Dikecam: “Menyakiti Hati Rakyat”
Selain menolak RUU TNI, mahasiswa juga mengecam pernyataan KSAD Maruli Simanjuntak yang menyebut kritik terhadap RUU ini sebagai bentuk “otak kampungan”.
Menurut La Ode Ikra Pratama, Panglima Besar GAM yang akrab disapa Banggulung, pernyataan tersebut mencederai demokrasi dan melecehkan rakyat.
“Bagaimana mungkin kritik yang dibangun atas dasar teori, analisis, dan pengalaman sejarah justru ditanggapi dengan ucapan yang merendahkan? Pernyataan KSAD ini menyakiti hati seluruh rakyat Indonesia,” ujar Banggulung.
Sebagai bentuk perlawanan lebih lanjut, GAM menegaskan akan menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih besar jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
“Kami tidak akan diam. Jika tuntutan ini diabaikan, kami akan kembali dengan gelombang aksi yang lebih besar,” tutup Banggulung.
(*/Red)












