PINRANG, INDIWARTA.COM – Keluhan warga soal tumpukan sampah yang meluber hingga ke badan jalan di perbatasan Kelurahan Tatae dan Kelurahan Pekkabata, Kecamatan Duampanua, akhirnya direspons pemerintah setempat. Kondisi jalan yang rusak dan berlubang memperparah situasi, membuat akses utama warga menjadi tidak nyaman dan berisiko bagi pengendara.
Lurah Tatae, Ahmad, mengakui penanganan sampah di wilayahnya belum maksimal. Kendala utama, kata dia, terletak pada keterbatasan alat berat untuk membersihkan timbunan dalam volume besar.
“Biasanya saya sewa ekskavator dari luar, ambil dari Polman (Polewali Mandar) dengan sistem harian. Tarifnya sekitar Rp 1,2 juta per hari,” ujar Ahmad saat dikonfirmasi, Ahad (15/2/2026).
Biaya operasional yang cukup tinggi serta ketergantungan pada alat berat dari luar daerah membuat pembersihan tidak bisa dilakukan secara rutin. Menurut dia, tanpa dukungan armada memadai, penanganan hanya bersifat sementara.
Koordinasi Perbatasan
Karena lokasi sampah berada di jalur perbatasan dua kelurahan, Ahmad menyebut perlu koordinasi lintas wilayah agar penanganan lebih efektif. Ia berjanji segera berkomunikasi dengan Lurah Pekkabata dan Camat Duampanua untuk menentukan langkah teknis.
“Insyaallah segera saya akan berkoordinasi dengan Pak Lurah Pekkabata dan Camat Duampanua agar persoalan ini bisa cepat diatasi,” katanya.
Warga sebelumnya mengeluhkan bau menyengat dari sampah rumah tangga yang menumpuk sejak Jumat (13/2/2026). Selain mengganggu kesehatan dan kenyamanan, tumpukan tersebut juga memakan badan jalan yang aspalnya telah rusak dan berlubang.
Harapan SP3L
Di luar penanganan darurat, Ahmad menilai perlu solusi jangka panjang. Ia berharap pemerintah daerah dapat memfasilitasi pembangunan Sistem Pengelolaan Sampah (SP3L) di Kelurahan Tatae, seperti fasilitas yang telah tersedia di Kelurahan Lampa.
“Kami berharap ada SP3L seperti di Lampa. Tanpa itu, kami kesulitan menangani volume sampah. Dengan adanya SP3L, masyarakat bisa lebih dimudahkan dan masalah sampah bisa teratasi lebih baik,” ujarnya.
Menurut dia, keberadaan fasilitas tersebut penting untuk mendorong pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan berkelanjutan di tingkat kelurahan.
Kini warga menunggu realisasi koordinasi yang dijanjikan pemerintah setempat. Mereka berharap jalan utama di perbatasan Tatae Pekkabata kembali bersih, aman, dan layak dilalui tanpa dihantui bau dan risiko kecelakaan.
(Red/Yahya)












