BAZNAS Makassar – GNPM Sunat 100 Anak Dan Donor Darah, Non Muslim Pun Ikut

Indiwarta.com_ MAKASSAR, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar, seakan tak sepi dari berbagai kegiatan. Selain mengangkat ekonomi ummat dan keummatan, lembaga pemerintah nonstruktural beralamat di Jalan Teduh Bersinar Nomor 5 ini juga menjalani misi kemanusiaan.

   

BAZNAS Makassar, berkolaborasi dengan Dewan Pengurus Pusat Generasi Nusantara Pengabdi Masyarakat (DPP-GNPM) menggelar sunatan gratis dan donor darah. Di antara yang disunat ada pula dari non muslim, Minggu (25/6/2023) pagi.

Pelaksana tugas Ketua BAZNAS Kota Makassar, Ahmad Taslim Matammeng saat membuka sunatan gratis itu mengakui, lembaga yang dipimpinnya bersama tiga komisioner lainnya masing-masing H. Ashar Tamanggong (ketua), H. Jurlan Em Saho’as (Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan pendayagunaan), serta H. Waspada Santing (Wakil Ketua III Bidang Keuangan dan Pelaporan) telah membumi, bukan saja di kota yang dipimpin Walikota Moh. Ramdhan Pomanto dan Wawali Fatmawati Rusdi saja, melainkan dikenal luas baik regional, maupun nasional.

Ahmad Taslim Matammeng menyebutkan, sebenarnya kerjasama dengan GNPM Makassar bukan kali ini saja, melainkan telah berjalin cukup lama.

Ahmad Taslim dan pengurus DPP GNPM bersama anak-anak usai disunat, menjelaskan, “Kami telah melakukan kerjasama dengan GNPM dalam program kemanusiaan lainnya. Dan kali ini, kami menyunat 100 anak keluarga dhuafa. Target kami tahun ini 1000 anak yang disunat,” paparnya, seraya menambahkan BAZNAS membantu masyarakat kurang mampu, apalagi, dalam kegiatan sunatan massal kali ini, selain gratis, anak-anak juga mendapat bingkisan sarung dan uang tunai pengganti biaya transport.

Menurut aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di massanya itu, tim tenaga medis yang diturunkan BAZNAS pun dalam sunatan massal kali ini, adalah mereka yang benar-benar profesional. Mereka berasal dari Rumah Sehat BAZNAS.

Menyinggung biaya sunatan, Ahmad Taslim Matammeng mengatakan, sekali sunat Rp1.500.000 hingga Rp2 juta per orang. Tetapi, orang tua tidak perlu membayar, karena merupakan tanggung jawab BAZNAS.

Asal dana tersebut, dari donasi dari para muzakki, para PNS dan Guru (SD-SMP) muslim di Kota Makassar, maupun lembaga yang dikenai kewajiban membayar zakat, atas kepemilikan harta yang telah mencapai nisab, dan haul. Di antara dana tersebut, kemudian oleh BAZNAS menyalurkannya dalam bentuk sunatan massal, bagi anak keluarga dhuafa.

Pernyataan senada dikemukakan, H. Jurlan Em Saho’as. Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan ini menambahkan, selain sunatan gratis, BAZNAS Makassar juga memiliki berbagai program yang betul-betul menyentuh ummat dan keummatan.

Program unggulan BAZNAS Kota Makassar di antaranya, Saudagar Tangguh Baznas yang dikemas dalam bentuk Bantuan Operasional Dhuafa Produktif. Bantuan Opersional Dhuafa Produktif ini, setidaknya karena kebanyakan pelaku UMKM, kurang memiliki kemampuan atau kecakapan untuk meningkatkan produktivitas. Malah, masih ada pelaku ekonomi kecil ini menjatuhkan pilihan kepada rentenir.

“Program perbantuan tersebut agar dapat membangkitkan pelaku ekonomi ummat, sekaligus dapat mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri layaknya Saudagar Tangguh. Hanya saja, para penerima harus melalui proses asesemen. Jumlahnya, lumayan. Bantuan ini, tanpa pengembalian,” tuturnya, melalui Tim Media BAZNAS Makassar.

Di bagian lain, H.Jurlan menyebutkan, BAZNAS tidak sekadar memberikan bantuan operasional tersebut, melainkan mendampingi penerima dalam hal memanej agar usaha mereka berkembang. Program lainnya adalah, memberikan beasiswa bagi kaum dhuafa mulai SD, SMP, MIN, MTsN, MAN, hingga S1.

Sunatan massal bagi 500 orang juga menjadi program Baznas hingga akhir Desember mendatang. Dan, pembagian makanan di kantong-kantong kemiskinan, utamanya di emperan-emperan jalan dan emperen toko. Jumlahnya 150 boks setiap jumat.

“Dalam menjalankan amanah, BAZNAS tidak boleh main-main dalam hal zakat. Baznas mengetahui betul para mustahik seperti diisyartakan dalam 8 golongan atau asnaf. Yakni, fakir, miskin, riqab atau biasa disebut sebagai hamba sahaya, gharim– orang yang memiliki hutang dan kesulitan melunasinya, mualaf, yaitu orang yang baru memeluk agama Islam untuk merasakan solidaritas. Termasuk, fiisabilillah– pejuang agama Islam, ibnu sabil– orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan jauh, serta amil– orang yang menyalurkan zakat,” pungkas jurnalis yang juga seniman ini.

Sementara itu, Ketua DPP-GNPM, Hasmawati Yusuf berterima kasih kepada BAZNAS Makassar, yang telah menjalin kerjasama. Ia mengakui, kerjasama dengan BAZNAS Makassar bukan saja sunatan massal dan donor harah, melainkan kegiatan bagi kemaslahatan lainnya.

“Benar, kami (DPP-GNPM) dan BAZNAS telah melakukan kerjasama. Misalnya pemberian kursi roda dan bantuan kemanusiaan lainnya,” tutup Hasmawati Yusuf. (*/Arman)

  
error: waiit