TAKALAR, INDIWARTA.COM – Suasana Alun-Alun Kabupaten Takalar siang tadi berubah menjadi wadah aspirasi yang penuh semangat dalam Dialog Publik bertajuk “Petani Menjerit, Harga Gabah Anjlok! Pemerintah Bisa Apa Menuju Swasembada Pangan?”. Acara yang digagas oleh Serikat Gerakan Rakyat Demokratik bersama Parlemen Jalanan ini berhasil menyedot perhatian publik, terutama kalangan pemerhati pertanian dan pemangku kepentingan daerah.
Hadir dalam forum tersebut Ketua DPRD Takalar, H. Muh Rijal, tokoh pemerhati petani Makmur Mustakim, SH, serta perwakilan TNI, Letkol Inf. Faisal Amin, S.I.P. Diskusi berlangsung hangat dan penuh kritik membangun. Namun, kekecewaan muncul lantaran Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Takalar tidak hadir, bahkan tidak mengirimkan wakil.
“Diskusi ini sangat penting karena menyuarakan jeritan petani kita yang kini sedang terpukul akibat anjloknya harga gabah. Ketidakhadiran Kadis Pertanian sangat disayangkan. DPRD akan segera memanggil yang bersangkutan untuk memberikan penjelasan,” tegas Ketua DPRD, H. Muh Rijal.
Nada serupa disampaikan Makmur Mustakim. Ia menilai absennya Kadis Pertanian mencerminkan lemahnya komitmen pemerintah daerah dalam menyikapi permasalahan yang menjerat para petani.
“Ini bukan sekadar forum seremonial. Ini ruang aspirasi rakyat. Ketika dinas terkait justru absen, publik patut bertanya ada apa sebenarnya? Saya hadir karena peduli, seharusnya pejabat terkait juga begitu,” katanya.
Sementara itu, Dirman Danker, salah satu peserta diskusi, turut menyesalkan absennya pihak Dinas Pertanian.
“Petani sudah menjerit, tapi Kadis Pertanian tidak hadir di tengah-tengah diskusi. Seharusnya, sebagai wakil pemerintah, ia hadir untuk mendengar langsung dan memberikan solusi terbaik bagi masyarakat Takalar,” ujarnya dengan nada tegas.
Dialog publik ini menjadi momentum penting yang menegaskan perlunya komitmen nyata dari pemerintah daerah dalam mewujudkan swasembada pangan dan melindungi kesejahteraan petani. Para peserta berharap, ke depan, pemerintah bisa lebih responsif dan hadir dalam setiap ruang diskusi yang membawa suara rakyat.
(*/Fathir)












