TAKALAR, INDIWARTA.COM – Di sebuah desa kecil bernama Timbuseng, Kabupaten Takalar, suara seorang anak 14 tahun nyaris tenggelam dalam pekatnya kekuasaan dan permainan oknum aparat desa. Syahril, bocah yang diduga menjadi korban penganiayaan brutal, kini tidak hanya menanggung luka fisik, tetapi juga beban batin yang teramat dalam. Kamis (5/6/2025).
Kasus ini mencuat setelah pihak keluarga melaporkan kejadian tersebut ke Polres Takalar pada Minggu, (1/6/ 2025). Namun, publik dikejutkan bukan hanya oleh tindakan kekerasan terhadap anak, tetapi oleh dugaan manipulasi hukum melalui surat perdamaian yang disusun secara sepihak oleh Kepala Dusun setempat, Rahman Daeng Solle.
Surat yang dibuat pada 24 Mei itu hanya ditandatangani oleh ibu dari IBL, terduga pelaku penganiayaan. Keluarga korban tidak diajak musyawarah, bahkan tidak diberi tahu sama sekali. Tidak ada tanda tangan dari orang tua maupun nenek korban. Tidak ada persetujuan. Tidak ada keadilan.
Ketika diminta konfirmasi, jawaban Kepala Dusun Rahman Daeng Solle justru menambah luka keluarga korban. “Sudah didamaikan,” ucapnya singkat melalui pesan pribadi, disertai foto surat yang dimaksud.
“Sakit sekali rasanya, anak kami seolah tidak berarti. Kami bahkan tidak tahu surat itu ada,” ujar nenek Syahril dengan suara bergetar.
Pihak keluarga menolak tegas surat tersebut. Mereka menegaskan tidak pernah ada kesepakatan damai dan menduga ada tekanan untuk menerima penyelesaian yang merugikan mereka demi melindungi pelaku.
“Anak kami bukan barang yang bisa diperdagangkan. Kami ingin hukum ditegakkan!” tegasnya.
Lebih dari sekadar laporan polisi, keluarga kini menuntut pencopotan dan proses hukum terhadap Kepala Dusun Rahman Daeng Solle. Mereka meminta pemerintah daerah turun tangan dan menjamin bahwa keadilan tidak dimatikan oleh kekuasaan lokal.
Kasus ini menjadi cermin buram bagaimana rakyat kecil kerap dipaksa diam melalui surat-surat yang dibuat dalam gelap. Masyarakat kini menunggu: apakah Polres Takalar dan pemerintah daerah akan berpihak pada korban, atau justru ikut menutup mata?
Syahril tidak butuh belas kasihan. Ia butuh keadilan. Dan keadilan tidak pernah lahir dari kebohongan. (*)












