MAKASSAR, INDIWARTA.COM – Hadirnya Bank Sampah di tingkat RT, di Kota Makassar merupakan upaya untuk meningkatkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Bank sampah ini berfungsi sebagai wadah bagi warga, untuk mengumpulkan dan menabung sampah yang telah dipilah, yang kemudian dikelola lebih lanjut untuk didaur ulang atau dijual, hingga dapat menambah penghasilan ekonomi warga.
Mendukung program pemerintah, dengan dilakukannya peresmian Bank Sampah Unit (BSU) di RT 01/RW 09 BTN Tirasa Pratama Indah, Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, adalah sejalan dengan program pemerintah Kota Makassar, untuk meningkatkan pengelolaan sampah dan menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
Hal tersebut, diungkapkan Ardiansyah Kepala Seksi Kebersihan, Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, yang mewakili Lurah Sudiang.
“Dengan keberhasilan bank sampah, juga membutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, hingga berbagai pihak terkait, seperti dinas lingkungan hidup, sektor pendidikan, dan lainnya,” tuturnya, melalui keterangannya, Kamis (24/7/2025) sore.
Dijelaskannya, dengan adanya bank sampah di RT 01 ini, diharapkan pengelolaan sampah di kompleks ini terutama keseluruhan RW, dapat lebih efektif, efisien dan berkelanjutan, serta memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan yang bersih bagi warga.
Farah, penyuluh dari Dinas Lingkungan Hidup kota Makassar menjelaskan, sampah ini ada dua, sampah organik dan non organik. “Kalau di bank sampah, jenisnya banyak ibu bapak. Seperti, kardus, buku-buku, botol yang namanya pet biru dan putih, gelas warna warni, botol shampo, botol baygon hingga plastik. Semuanya, haruslah melalui pemilahan,” ungkapnya.
“Logam, seperti peniti, paku, dan sejenisnya adalah sangat bermanfaat juga,” katanya.
Dipaparkan Farah, kegiatan bank sampah melibatkan yakni dari pengumpulan, pemilahan, dan penimbangan sampah kering (anorganik) yang memiliki nilai ekonomis, seperti plastik, kertas, logam, dan kaca. Sampah-sampah ini, kemudian ditukar dengan sejumlah uang atau barang kebutuhan pokok, yang dicatat dalam buku tabungan nasabah.
“Tujuan utamanya adalah mengurangi volume sampah, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah, dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga,” terangnya.
Dikatakan Farah, melalui sinergi antara Pegadaian dan Bank Sampah terutama di RT, program ini mampu memberikan dampak signifikan dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih. Target dari sinergitas Pegadaian dan Bank Sampah Unit ini sangat jelas, adalah mengolah sampah, menabung emas, mendorong terwujudnya zero waste di kota Makassar.
Ditempat yang sama, perwakilan dari pihak Pegadaian mengatakan, Bank Sampah ini
tabungannya seperti bank. Namun, di pegadaian tabungannya bisa dijadikan emas.
“Minimal saldo awal 50 ribu dan tidak ada potongan. Kalau sebelumnya ada tabungan emasnya, bisa dilanjutkan. Mengenai pencairan, bisa lewat aplikasi dan atau datang langsung ke kantor pegadaian,” ucapnya.
Salah satu program unggulan yang dibahas adalah mekanisme penukaran sampah menjadi tabungan emas. Sampah yang masih memiliki nilai jual atau bisa didaur ulang, akan dikonversi menjadi saldo tabungan emas atas nama anggota bank sampah.
Diketahui, sampah yang bernilai dijual, lalu nilainya dihitung dan dikonversi menjadi tabungan emas. Pegadaian hingga saat ini, membina puluhan Bank Sampah di Kota Makassar.
Terkait pertanyaan sejumlah warga RW hingga Plt RT 01 Suparman, Ardiansyah menuturkan, “Untuk di Biringkanaya sendiri, belum ada laporan terkait Sampah Gratis tersebut, untuk diefektifkan. Namun, tetap akan dikonfirmasikan jika sudah akan mulai. Adapun mengenai pengambilan sampah warga, yang saat ini hanya seminggu sekali, sebelumnya dua kali seminggu, akan dilakukan kordinasi dan penataan ulang nantinya,” ucapnya.
Selain hadir Kepala Seksi Kebersihan Kelurahan Sudiang, Penyuluh DLH Makassar, Pegadaian, Plt RT 01, hadir pula Plt RW 09, Tokoh Masyarakat, Ketua BSU RT 01, para warga RW 09. Antusias warga pun, dengan diresmikannya Bank Sampah Unit (BSU) Ni’matullah 01 Tirasa. (Arman)












